Martini

Forest

Martini melangkahkan kakinya cepat, udara malam yang dingin membuatnya berulangkali membetulkan jaket tipis yang dikenakan. Entah mengapa, suasana  desa tempatnya bertugas terasa semakin sepi, padahal jam masih pukul 19.00 WIB, mestinya warung pak Kumis yang terletak di ujung desa masih buka,dan masih banyak pemuda yang duduk nongkrong disitu untuk sekedar menikmati malam sambil minum segelas kopi hitam sembari bercengkrama dengan pemuda lainnya. Tapi ini tidak, semua terasa begitu hening, seolah hanya dia sendiri yang berada di planet bumi ini.

“Sepi nyet, kemana orang-orang?”

Martini menoleh ke belakang, jalanan desa yang masih belum diaspal, penuh dengan genangan air, memang, seharian tadi hujan mengguyur desa Giyangan, sebuah desa kecil yang terletak di lereng gunung Argopuro. Mungkin itu pula yang menyebabkan suasana desa ini begitu sepi, dan terasa mencekam, hanya terdengar desau angin dan ranting pohon cemara serta pinus yang saling bergesekan.

Sembari berjalan, Martini menoleh ke kanan dan ke kiri, semua rumah yang ada di pinggir jalan, tertutup rapat, tidak terlihat satupun manusia yang keluar meski hanya untuk sekedar mencari udara. Martini benar-benar sendirian, dia merasa takut, wajahnya pucat dan pias. Langkah kakinya berjalan semakin cepat, tak lagi dia menoleh ke belakang, dia benar-benar merasa ketakutan.

Akhirnya, setelah beberapa saat Martini berjibaku dengan rasa takut, dia pun tiba di Puskesmas tempatnya bertugas, terlihat suasananya begitu sepi, hanya ada mas Karyo, satpam tempatnya bekerja. Terlihat mas Karyo sedang asyik menonton televisi yang terletak di ruang tunggu, beberapa kali mas Karyo tertawa terbahak melihat tayangan di televisi, begitu seriusnya hingga mas Karyo seolah tak menyadari kehadiran Martini.

Lega Martini melihat mas Karyo, bibirnya tersungging senyuman tipis, tidak ada lagi yang ditakutkan olehnya. Malam ini, dia bisa berjaga dengan tenang, seolah takut menganggu mas Karyo, perlahan Martini membuka pintu ruangan IGD tempatnya berjaga, disana tidak terlihat siapapun, mestinya sudah ada Bambang dan Resti, namun rupanya keduanya tidak terlihat.

“Kemana Bambang dan Resti? Jam segini kok belum datang?” Martini merasa heran sebab, tidak biasanya Bambang dan Resti terlambat masuk kerja, apalagi jika sekarang waktunya mereka  dinas malam. Memang, sejak ada aturan puskesmas wajib buka 24 jam, akhirnya, mereka semua bekerja dengan sistem shift.  Dan malam ini, seharusnya giliran mereka bertiga untuk berjaga. Martini selaku bidan, Resti dan Bambang selaku perawat.

Martini masuk ke dalam ruang periksa, tubuhnya terasa begitu lelah, perjalanan dari rumah ke puskesmas tempatnya bekerja memang cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar 30 menit, dengan berjalan kaki, sementara 10 menit jika menggunakan sepeda motor, celakanya, hari ini, motor Martini rusak. Bagus, anak lelaki satu-satunya yang berusia 16 tahun, membongkar kendaraan Martini, dengan alasan sebagai media belajar, karena Bagus yang sekolah di SMK jurusan sepeda motor, sedang mendalami pelajaran. Dan karena di rumah hanya ada motor Martini, maka, alhasil motor Martinilah yang jadi bahan uji coba. Sementara suaminya Bayu, sedang tidak ada di rumah, alhasil Maertini terpaksa bejalan kaki seorang diri, dari rumah menuju puskesmas tempatnya bekerja.

“Aduh, kok badanku sakit semua ya?”

Martini merasakan lengannya sakit, perlahan dibuka jaket tipis yang tadi dikenakannya, terlihat lengannya memar, Martini terkejut, darimana memar itu? Ketika Martini akan beranjak menuju ke lemari obat, terasa  kakinya sakit, berturut punggung dan juga dadanya terasa begitu sesak, seoalah ada beban berat menghimpitnya, Martini kebingungan, mengapa rasa sakit itu datangnya tiba-tiba semua, padahal selama dia berjalan tadi semuanya baik-baik saja.

“Mas Karyoooo!”

Terdengar suara Resti berteriak, suaranya begitu nyaring dan menyayat hingga membuat Martini terkejut, dengan tertatih dia keluar dari ruang IGD, menuju ke ruang tunggu. Terlihat disana, mas Karyo, Bambang dan Resti yanng sedang panik dan kebingungan.

Martini mendekat kearah mereka, namun anehnya mereka bertiga tidak menghiraukannya. Terlihat Resti bercerita dengan panik dan airmatanya tumpah ruah, sementara mas Karyo terlihat bingung, dan Bambang sibuk menelepon.

“Hu,hu,hu, kasihan mas, kasihan. Tubuhnya, ditemukan di pinggir sawah, seperti dibuang begitu saja, mbakyu…, kok nasibmu buruk sekali,” Resti menangis sembari meratapi nasib seseorang namun entah siapa yang dimaksud.

“Trus sekarang jenazahnya?”

“Sudah dibawa ke Rumah Sakit, tadi aku dan mas Bambang datang kesana, persis saat jenazahnya dibawa ambulance,”

“MasyaAllah,” mas Karyo terduduk lemas di kursi ruang tunggu, kini sorot matanya terlihat kosong.

“Aku sudah telepon ke ibu kepala, beliau langsung ke rumah sakit, untuk mendampingi keluarga sekaligus menunggu jenazah di autopsi,”

“Mas Mbang, siapa orang yang tega menyakitinya! Wong dia orang lugu, ndak aneh-aneh, kok tega dibunuh sedemikian keji,”

Tangan Resti memegang erat lengan Bambang, wajahnya memelas dan terlihat begitu sedih. Bambang hanya menggeleng lemah, wajahnya sendu, matanya terlihat mememerah menahan tangis.

Martini semakin bingung, siapa yang dimaksud oleh mereka semua, jenazah siapa, dan apakah dia mengenalnya? Martini mendekat pada Resti, disentuhnya bahu Resti,tiba-tiba Resti berjingkat, tubuhnya merapat pada Bambang, wajahnya yang tadi sedih, berubah terlihat ketakutan.

“Mas, aku…”

Resti tidak melanjutkan kalimatnya, matanya membulat, wajahnya pucat, bibirnya terbuka seolah terkejut. Tanpa berkata, apa-apa, telunjuknya menunjuk ke arah Martini, yang diikuti oleh pandangan Mas Karyo dan Bambang. Kini, ketiganya menatap ke arah Martini, tapi bukan wajah bahagia yang terlihat, melainkan sebaliknya, wajah penuh ketakutan.

Martini diam, tubuhnya membeku, sorot matanya yang tadi kebingungan mendadak terlihat kosong, kini pakaian yang tadi dikenakannya sekarang terlihat sobek disana sini, luka ditubuhnya semakin terlihat, bahkan rambutnya yang tadi rapi, kini terlihat berantakan, saat itu, Martini sadar, jika tadi sewaktu dia berangkat kerja, di jalan dia di hadang 4 orang pemuda kampung yang mabuk, entah mengapa, mereka semua secara membabi buta memukul dan menyiksa Martini, setelah itu, tubuh Martini yang sudah tak berdaya, dilecehkan oleh mereka. Hingga akhirnya, dengan sisa tenaga Martini berusaha kabur, namun nahas, dia tak berhasil kabur, salah satu pemuda mabuk itu memukul belakang kepalanya,hingga dia terjungkal ke atas tanah,dan tak sadar.

Kini, Martini telah sadar sepenuhnya apa yang terjadi, dia menatap ketiga rekannya dengan tatapan kosong, wajahnya sendu dan sedih, dia ingin berbicara pada mereka, namun, tak bisa. Bibirnya membeku, sama seperti tubuhnya yang terbaring di kamar mayat.

 

MeutiBulan

#Lomba Menulis Cerpen Horor Akhir Tahun